Siang itu, tepat pukul 13.30 Wita hari kamis 5 Juni 2008 saya menerima telp dari seorang teman di kantor yang mengabarkan bahwa Taufik mengalami kecelakaan lalu lintas bersama istri dan anaknya. Untuk memastikan kondisinya saya kontak salah satu teman di Taliwang…Sungguh suatu berita yang tidak disangka sebelumnya dan menyesakkan dada bahwa Taufik sudah meninggalkan kita semua.
Sebuah rasa kehilangan yang mendalam akan sosok seorang sahabat sejati. Kehilangan guru rohani pembangun jiwa dalam usaha meraih hidayah Ilahi.
Dan yang menambah kepiluan hati ini, istrinya juga mengalami hal yang sama mengikuti langkahnya menghadap Yang Maha Kuasa.
Innâ Lillâhi wa Inna Ilayhi Râji’ūn
Perih dan luka mendera hati. Tanpa terasa air mata ini menetes, tubuh rasanya bergetar melihat apa yang telah terjadi.
Rasa takutpun muncul dalam sanubari. Takut akan ke-Maha Kuasaan Allôh.
Sungguh benar apa yang telah dijanjikan Allôh :
Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan (QS al-Wâqi’ah : 60)
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS an-Nisâ` : 78)
Ya Allôh, ampunilah dosa-dosa mereka berdua dan dosa-dosa kami. Jadikanlah amal-amal yang telah mereka lakukan adalah amal yang shâlih, amal yang hanya mengharap wajah-Mu semata, maka terimalah segala amal baiknya, wahai Dzât yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, wahai Dzât yang Maha Melihat lagi Maha mendengar. Ya Allôh, rahmatilah mereka, lapangkanlah kuburnya, terangilah makamnya, dan jauhkan keduanya dari siksa-Mu, karena sesungguhnya siksamu amat pedih. Ya Allôh, himpunlah keduanya bersama hamba-hamba-Mu yang shâlih, para shiddîqîn, syuhadâ’ dan para anbiyâ`, dan jadikanlah surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan adalah tempat terakhir mereka.
Amîn yâ Robbal ‘Ậlamîn…
Akhirnya...Dengan rasa berat hati kami harus merelakan kepergianmu dan istrimu. Semoga kalian mendapat yang terbaik di sisi-Nya.
Selamat Jalan Kawanku…


|