Senin, 09 Juni 2008

Maut Tidak Mengetuk Pintu

Membaca email seorang teman hari ini berisi artikel yang ditulis oleh Pak Asro Kamal Rokan (Republika) mengingatkan memori tentang kepergian sahabat saya sebelumnya Taufik. Artikelnya sungguh menyentuh dan membuat pikiran menerawang kembali akan hakikat hidup sebenarnya. Berikut kutipan artikelnya :

Kepada siapa manusia menggantungkan dirinya, jika bukan kepada Allah, Tuhan Yang Mahakuasa atas segalanya?
Senin pagi, ketika akan naik pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines dari Polonia, Medan, tak seorang dari lebih seratus penumpang mengetahui bahwa itulah akhir dari perjalanannya. Saat mencari tempat duduk sesuai tiket, memasang sabuk pengaman, mematikan telepon genggam, dan menyaksikan pramugari memeragakan tata cara pengamanan bila terjadi musibah, tak ada yang membayangkan beberapa menit lagi adalah batas kehidupan mereka.
Sejumlah penduduk di rumah maupun lalu lalang di Jalan Djamin Ginting, Padang Bulan, beberapa menit sebelumnya mungkin sedang bercanda atau menyaksikan tayangan televisi tentang gosip artis, tak membayangkan bahwa itulah batas akhir kehidupan mereka. Mereka tewas ditimpa kepingan badan pesawat. Mereka mencari kehidupan namun mendapatkan kematian.
Antarini Malik --putri almarhum Adam Malik-- yang semula akan naik Mandala, juga tak membayangkan keputusan untuk pindah pesawat, telah menghindarkannya dari maut. Sebanyak 16 orang, yang kemudian diketahui selamat, juga tak membayangkan bisa keluar dari pesawat yang berkeping-keping dan api yang berkobar. Siapa yang mengatur kematian dan kehidupan itu? Apakah manusia dapat memilih cara kematiannya?
Ketika ratusan anak-anak bermain-main di pantai, ibu-ibu belanja di pasar, dan sebagian lain dengan segala kesibukannya, tiba-tiba air laut mendadak surut dan tak lama kemudian gelombang tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam. Tak ada tempat untuk berpegang, bahkan pohon-pohon dan bangunan batu pun roboh. Ratusan ribu penduduk tewas. Tak ada yang bisa menahannya.
Ketika badai Katrina melanda New Orleans, Amerika Serikat, ribuan orang --mayoritas kulit hitam-- tewas. Listrik mati, puluhan ribu orang mengungsi, kelaparan, dan penjarahan terjadi di negara yang selalu memosisikan diri sebagai penyelamat warga dunia itu. Amerika Serikat --negara yang merasa bisa melakukan segalanya, memiliki teknologi cangggih, dan ditakuti negara-negara lain-- tak berdaya menghadapi badai dahsyat itu. Pemerintah AS, yang selalu ikut campur urusan negara lain dengan alasan menyelamatkan rakyat, juga takluk dan tak dapat menyalahkan siapa pun.
Manusia sesungguhnya tidaklah berdaya. Sama sekali tidak berdaya. Kematian dapat datang kapan saja dengan alasan-alasannya. Tak ada yang bisa menolak apalagi memilihnya. Manusia selalu merasa dapat mengatur semuanya, termasuk memperlambat datangnya kematian. Mereka membuka lebar-lebar pintu untuk dunia dan percaya kebahagiaan sejati ada di dalamnya. Manusia merasa kematian hanya datang pada usia tua, sehingga mereka memilih dunia --tak peduli melahap harta yang bukan miliknya. Mereka mencintai dunia seakan dunia dan harta dapat membujuk Tuhan untuk memperlambat kematiannya.
Maut tidak datang dengan mengetuk pintu. Ia bisa masuk dari setiap celah tanpa kita tahu. Ia tak pernah datang terlambat dan bermain-main. Tak ada yang bisa menahannya, tidak juga ajimat, susuk, setumpuk harta, dan kekuasaan.
Detik ini, menit ini, kita bisa tertawa, menghitung tabungan, dan mempersiapkan strategi menghancurkan lawan. Detik ini, kita merancang untuk suatu jabatan, kehormatan, dan kekuasaan. Detik berikutnya, tidak ada yang bisa menahan datangnya maut: Ia tidak mengetuk pintu dan memberi tahu kedatangannya. Ia bisa masuk dari semua sisi dan bahkan ketika kita menghirup udara segar.
Lalu, kepada siapa manusia menggantungkan hidupnya, jika bukan kepada Allah, Tuhan Yang Mahakuasa atas segalanya.


Blogspot Template by Isnaini Dot Com