Rabu, 18 Juni 2008

1 Tahun Sudah

Saat mata terlelap pulas di siang hari sehabis kerja shift malam, tiba-tiba ada sms masuk dari Istri tercinta. Kali ini lain dari biasanya smsnya lumayan panjang, ternyata isi smsnya mengingatkan peristiwa setahun yang lewat. Yah...ternyata hari ini genap 1 tahun sudah usia pernikahan kami.

Seiring berjalannya waktu tak terasa kita telah melewati hidup berumah tangga selama 1 tahun, banyak cobaan yang tela kita hadapi namun semuanya ada hikmahnya dalam hidup kita. Semoga kebahagiaan kita tetap terjaga dengan hadirnya si buah hati kita NAJLA UZMA AFIFAH. Ibu ingin membuka lembaran baru tidak ada yang harus dirahasiakan,kita butuh
saling keterbukaan sehingga terjalin keluarga yang sakinah...semoga kedamaian akan tersebar bagi keluarga kita dan menjadikan keluarga kita sebagai ahli surga. Amin..



Ada rasa haru dan bahagia ketika membaca setiap rangkaian kata didalamnya, sebuah renungan dan bahan introspeksi diri dari apa yang telah terlewati. Semoga harapan serta do'a Ibu dan Ayah dikabulkan oleh-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin

Baca Selengkapnya...

Minggu, 15 Juni 2008

Barang Milikku yang Paling Berharga Adalah Kamu

Buat nambahin postingan, setelah bongkar-bongkar file hasil download tempo dulu akhirnya ketemu juga sebuah artikel yang bisa dijadikan sebagai motivasi diri. Cuma sayang lupa original creatornya siapa.



Aku sangat menyukai ucapan mama : "Barang milikku yg paling berharga adalah kamu!" Ucapan yang sangat menyejukkan hati. dan sampai sekarang aku masih mengingatnya terus! Papa dan mama menikah karena dijodohkan orang tua, demikianlah yg dialami para muda-mudi dizaman itu, tapi hal ini sudah umum, tapi dizaman sekarang peristiwa itu sudah jarang terjadi, kebanyakan adalah hasil pilihan sendiri. Tapi mama sangat mencintai papa, demikian juga dg papa dan tampak selalu mesra, akur bagaikan pasangan cinta sejoli. Sangat sulit dibayangkan bahwa pernikahan mereka pernah diterjang badai! Badai itu nyaris memisahkan mereka. hanya karena emosi sesaat saja! Papa dan mama bekerja diinstansi yg sama, oleh karena itu setiap hari berangkat dan pulang bersama. Suatu hari mereka kerja lembur, mengadakan stock opname digudang, hingga pukul 2.00 dinihari dan baru pulang kerumah. Papa sangat letih dan lapar, sampai dirumah tidak ada makanan maupun minuman yg siap disaji. Papa yg lapar minta mama untuk menyiapkan makanan dan minuman. Beberapa hari belakangan ini emosi mama memang tidak stabil, ditambah lagi dg adanya lembur, badan dan pikiran sungguh melelahkan, sehigga dg kondisi yg labil itu, mama spontan menjawab dg nada keras, " mau makan dan minum, memangnya tidak bisa masak sendiri? Apa tidak punya tangan dan kaki lagi, ya?"

Karena papa juga terlalu capek, dan langsung menjawab dg acuh tak acuh, "
kamu ini isteriku, memasak adl sudah menjadi kewajibanmu!"

Mama langsung merespon, "tengah malam begini mau masak apa? Sudah lewat
waktunya makan, orang laki seharusnya lebih kuat dari pada perempuan!"

Mendengar itu, marahlah papa, beliau langsung berteriak dg emosi, "kamu
salah makan obat apa kemarin? Mau sengaja cari ribut,ya? Istri memasak
untuk suami adalah wajar, kenapa harus tergantung pada waktu? Kamu tidak
senang, ya? Kalau tidak senang, kamu pergi saja sekarang dari rumah
ini!!!"

Mama tidak menyangka akan menerima reaksi yg begitu keras. Setelah terdiam
sesaat, mama kemudian berkata sambil menitikkan air mata, "kamu ingin aku
pergi........aku akan pergi sekarang!"
Mama segera kembali kekamar untuk mengemasi barang2nya.

Melihat mama masuk kamar dan berkemas-kemas, papa berkata kepada mama yg
membelakanginya, "bagus! Pergi sana!Ambil semua barang2mu dan jangan
kembali lagi!"

Beberapa saat kemudian suasana menjadi sunyi senyap, tak ada kata2
kebencian lagi yg muncul, menit demi menit berlalu, tapi mama tetap tak
kunjung keluar dari kamar. Merasakan keanehan itu, papa kemudian menyusul
masuk kamar dan melihat mama sedang duduk diranjang penuh dengan linangan
air mata. Sambil menatap koper kulit besar yg masih tergeletak diatas
ranjang. Melihat papa datang, dg ter-isak2 mama berkata, "duduklah diatas
koper kulit itu, supaya aku boleh mengenang masa2 perpisahan kita yg
terakhir."

Merasa aneh, maka dengan sendu papa akhirnya tidak tahan juga untuk tidak
bertanya, " "untuk apa?"

Sambil menangis dg ter-putus2 mama berkata, "emas dan perak aku tidak
memilikinya," tapi milikku yang paling berharga adalah kamu!" Kamu dan
anak2ku, aku tidak memiliki apapun...."

Meskipun kejadian itu telah lewat lama sekali, tapi aku masih mengingatnya
terus sampai sekarang. Apalagi ketika mama mengucapkan kata2 terakhir itu,
papa merasa sangat tergoncang, sejak malam itu, papa telah diubah dan
telah menjadi sangat hormat dan sayang kepada mama. Menggandeng tangan
anak2, merangkul mama serta senantiasa saling berpelukan. Kelak aku juga
bercita-cita ingin mendapatkan pasangan yg seperti papa.

Kehidupan apapun yg kita jalani ini, itu tidaklah penting; tapi yg
terpenting adl bagaimana sikap kita dalam menghadapi hidup ini, terutama
disaat-saat badai itu muncul."

Baca Selengkapnya...

2 Bulan 9 Hari Usiamu


Tanpa terasa waktu terus berjalan. Afifah tumbuh dan berkembang, hari ini usianya kini menginjak 2 bulan 9 hari. Tiap hari ada saja hal yang membuat hati Ayah dan Ibu bahagia melihatnya. Tingkahnya yang lucu, tangisannya yang manja ingin diperhatiin, senyumnya yang sumringah membuat rasa lelah Ayah dan Ibu bekerja sirna seketika. Ya Allah alangkah besar nikmat yang Engkau anugerahkan ini, rasa cinta dan sayang tumbuh dalam keluargaku, apakah ini sebenar-benar kenikmatan dan kebahagian sebuah keluarga? Mudah-mudahan kami sekeluarga termasuk dalam orang-orang yang pandai bersyukur atas nikmat Tuhan-nya, seperti apa yang termaktub dalam kitab-Mu Surah Ar-Rahman yang artinya : Maka nikmat apalagi yang engkau dustakan

Ya Allah...berikanlah selalu kami petunjuk untuk dapat melaksanakan dan mempertanggungjawabkan amanah yang Engkau berikan ini karena Engkaulah sebaik-baik pemberi petunjuk. Lindungilah dan berkahilah keluargaku agar selalu berada di jalan-Mu, karena jalan terjal di depan kan selalu menghadang. Ampunilah dosa-dosa kami bila kami lupa dan khilaf karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Amin Ya Rabbal Alamien

Baca Selengkapnya...

Senin, 09 Juni 2008

Maut Tidak Mengetuk Pintu

Membaca email seorang teman hari ini berisi artikel yang ditulis oleh Pak Asro Kamal Rokan (Republika) mengingatkan memori tentang kepergian sahabat saya sebelumnya Taufik. Artikelnya sungguh menyentuh dan membuat pikiran menerawang kembali akan hakikat hidup sebenarnya. Berikut kutipan artikelnya :

Kepada siapa manusia menggantungkan dirinya, jika bukan kepada Allah, Tuhan Yang Mahakuasa atas segalanya?
Senin pagi, ketika akan naik pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines dari Polonia, Medan, tak seorang dari lebih seratus penumpang mengetahui bahwa itulah akhir dari perjalanannya. Saat mencari tempat duduk sesuai tiket, memasang sabuk pengaman, mematikan telepon genggam, dan menyaksikan pramugari memeragakan tata cara pengamanan bila terjadi musibah, tak ada yang membayangkan beberapa menit lagi adalah batas kehidupan mereka.
Sejumlah penduduk di rumah maupun lalu lalang di Jalan Djamin Ginting, Padang Bulan, beberapa menit sebelumnya mungkin sedang bercanda atau menyaksikan tayangan televisi tentang gosip artis, tak membayangkan bahwa itulah batas akhir kehidupan mereka. Mereka tewas ditimpa kepingan badan pesawat. Mereka mencari kehidupan namun mendapatkan kematian.
Antarini Malik --putri almarhum Adam Malik-- yang semula akan naik Mandala, juga tak membayangkan keputusan untuk pindah pesawat, telah menghindarkannya dari maut. Sebanyak 16 orang, yang kemudian diketahui selamat, juga tak membayangkan bisa keluar dari pesawat yang berkeping-keping dan api yang berkobar. Siapa yang mengatur kematian dan kehidupan itu? Apakah manusia dapat memilih cara kematiannya?
Ketika ratusan anak-anak bermain-main di pantai, ibu-ibu belanja di pasar, dan sebagian lain dengan segala kesibukannya, tiba-tiba air laut mendadak surut dan tak lama kemudian gelombang tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam. Tak ada tempat untuk berpegang, bahkan pohon-pohon dan bangunan batu pun roboh. Ratusan ribu penduduk tewas. Tak ada yang bisa menahannya.
Ketika badai Katrina melanda New Orleans, Amerika Serikat, ribuan orang --mayoritas kulit hitam-- tewas. Listrik mati, puluhan ribu orang mengungsi, kelaparan, dan penjarahan terjadi di negara yang selalu memosisikan diri sebagai penyelamat warga dunia itu. Amerika Serikat --negara yang merasa bisa melakukan segalanya, memiliki teknologi cangggih, dan ditakuti negara-negara lain-- tak berdaya menghadapi badai dahsyat itu. Pemerintah AS, yang selalu ikut campur urusan negara lain dengan alasan menyelamatkan rakyat, juga takluk dan tak dapat menyalahkan siapa pun.
Manusia sesungguhnya tidaklah berdaya. Sama sekali tidak berdaya. Kematian dapat datang kapan saja dengan alasan-alasannya. Tak ada yang bisa menolak apalagi memilihnya. Manusia selalu merasa dapat mengatur semuanya, termasuk memperlambat datangnya kematian. Mereka membuka lebar-lebar pintu untuk dunia dan percaya kebahagiaan sejati ada di dalamnya. Manusia merasa kematian hanya datang pada usia tua, sehingga mereka memilih dunia --tak peduli melahap harta yang bukan miliknya. Mereka mencintai dunia seakan dunia dan harta dapat membujuk Tuhan untuk memperlambat kematiannya.
Maut tidak datang dengan mengetuk pintu. Ia bisa masuk dari setiap celah tanpa kita tahu. Ia tak pernah datang terlambat dan bermain-main. Tak ada yang bisa menahannya, tidak juga ajimat, susuk, setumpuk harta, dan kekuasaan.
Detik ini, menit ini, kita bisa tertawa, menghitung tabungan, dan mempersiapkan strategi menghancurkan lawan. Detik ini, kita merancang untuk suatu jabatan, kehormatan, dan kekuasaan. Detik berikutnya, tidak ada yang bisa menahan datangnya maut: Ia tidak mengetuk pintu dan memberi tahu kedatangannya. Ia bisa masuk dari semua sisi dan bahkan ketika kita menghirup udara segar.
Lalu, kepada siapa manusia menggantungkan hidupnya, jika bukan kepada Allah, Tuhan Yang Mahakuasa atas segalanya.

Baca Selengkapnya...

Sabtu, 07 Juni 2008

Selamat Jalan Kawanku...

Siang itu, tepat pukul 13.30 Wita hari kamis 5 Juni 2008 saya menerima telp dari seorang teman di kantor yang mengabarkan bahwa Taufik mengalami kecelakaan lalu lintas bersama istri dan anaknya. Untuk memastikan kondisinya saya kontak salah satu teman di Taliwang…Sungguh suatu berita yang tidak disangka sebelumnya dan menyesakkan dada bahwa Taufik sudah meninggalkan kita semua.

Sebuah rasa kehilangan yang mendalam akan sosok seorang sahabat sejati. Kehilangan guru rohani pembangun jiwa dalam usaha meraih hidayah Ilahi.

Dan yang menambah kepiluan hati ini, istrinya juga mengalami hal yang sama mengikuti langkahnya menghadap Yang Maha Kuasa.

Innâ Lillâhi wa Inna Ilayhi Râji’ūn

Perih dan luka mendera hati. Tanpa terasa air mata ini menetes, tubuh rasanya bergetar melihat apa yang telah terjadi.

Rasa takutpun muncul dalam sanubari. Takut akan ke-Maha Kuasaan Allôh.

Sungguh benar apa yang telah dijanjikan Allôh :

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan (QS al-Wâqi’ah : 60)

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS an-Nisâ` : 78)


Ya Allôh, ampunilah dosa-dosa mereka berdua dan dosa-dosa kami. Jadikanlah amal-amal yang telah mereka lakukan adalah amal yang shâlih, amal yang hanya mengharap wajah-Mu semata, maka terimalah segala amal baiknya, wahai Dzât yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, wahai Dzât yang Maha Melihat lagi Maha mendengar. Ya Allôh, rahmatilah mereka, lapangkanlah kuburnya, terangilah makamnya, dan jauhkan keduanya dari siksa-Mu, karena sesungguhnya siksamu amat pedih. Ya Allôh, himpunlah keduanya bersama hamba-hamba-Mu yang shâlih, para shiddîqîn, syuhadâ’ dan para anbiyâ`, dan jadikanlah surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan adalah tempat terakhir mereka.

Amîn yâ Robbal ‘Ậlamîn…

Akhirnya...Dengan rasa berat hati kami harus merelakan kepergianmu dan istrimu. Semoga kalian mendapat yang terbaik di sisi-Nya.

Selamat Jalan Kawanku…

Baca Selengkapnya...

Selasa, 03 Juni 2008

6 April 2008 Kelahiran Anakku


Hari demi hari, minggu demi minggu serta bulan demi bulan menunggu si buah hati. Rasa gundah bercampur bahagia menyertai penantianku. Akankah tidak lama lagi aku akan menjadi Ayah ?? Tepat pada hari minggu tanggal 6 april 2008 pukul 22.18 permata hatiku lahir lewat operasi caesar di klinik bersalin Exonero. Suara Adzan dan Iqamat menyambut kelahirannya. Selamat datang anakku...Ayah dan Ibu bahagia menyambutmu, rasa sayang dan cinta telah lama menantimu. Ya Allah kami memanjat puji syukur kepada-Mu atas semua ini.


Sebuah nama telah Ayah persiapkan untukmu..."NAJLA UZMA AFIFAH" mudah-mudahan dirimu akan menjadi harapan Ayah dan Ibu seperti yang terukir dalam makna namamu. Najla = orang yang memiliki mata indah, baik keturunannya. Uzma = orang yang luhur,cemerlang dan terhormat. Afifah = orang yang berbudi pekerti yang baik. Semoga Allah mengabulkan harapan Ayah dan Ibu terhadap dirimu kelak anakku. Amin Ya Rabbal Alamin.

Baca Selengkapnya...

Blogspot Template by Isnaini Dot Com